Home

Kamis, 20 Maret 2014

Pengalaman daftar menjadi Santri di Pondok Pesantren Termegah Se Asia – Tenggara ( MAHAD AL-ZAYTUN)


            Kilas balik cerita pengalaman saya ketika menimba pendidikan dan ilmu agama di pondok pesantren, mungkin bisa menjadi pengobatan kerinduan untuk kembali melihat atau berkunjung kembali kesana, dimana udah tidak terasa 8 tahun sudah sejak meninggalkan pesantren tersebut yang selama 6 tahun berada disana mulai tahun 2000 – 2006.  mengingat waktu reuni akbar angkatan kian dekat, yang insya allah akan berlangusng pada tanggal 1 Juli 2016 bertepatan sepuluh tahun setelah meninggalkan pesantren tersebut pada tanggal 1 Juli 2006, kayaknya saya ingin bernostalgia menuliskan beberapa pengalaman menarik ketika saat proses penerimaan santri dan menjadi santri selama 6 tahun di pondok pesantren termegah di asia tenggara yang saat ini dikatakan sebagai pesantren yang kontroversi MAHAD AL - ZAYTUN

           Ketika tahun 1999 waktu menempuh pendidikan di Sekolah Dasar (SD) kelas 6 dimana saat itu tidak ada terbesit keinginan untuk melanjutkan ke pesantren yang terbanyang hanya setelah lulus SD ingin masuk ke SMP favorit di banjarmasin. Dimana pada waktu itu ingin satu SMP dengan kakak yang terlebih dahulu bersekolah di SLTP 24 Banjarmasin. Ketika  waktu SD saya termaksud anak yang nakal, dimana setelah pulang sekolah saya sering bermain diluar dan pulang ketika senja magrib tiba, yach banyak permainan yang dilakukan dengan teman sebaya dahulu baik bermain layang – layang, kelereng, mandi di sungai, dan menyewa play station yang pada waktu itu termaksud permainan yang mewah.


        Entah kenapa ketika waktu itu saya sering lupa waktu jika bermain diluar, yah mungkin dunia anak – anak harus seperti itu sehingga orang tua saya sangat mentoleransi main diluar sana. Satu pesan yang saya masih ingat hingga saat ini dari orang tua “nak, jika kamu main diluar yang penting kamu setelah pulang sekolah pulang dulu kerumah makan siang dan ganti baju, setelah itu bermain lah sepuasnya diluar dengan catatan udah mendapatkan ijin dari orang tua”.

       Suatu ketika ketika liburan sekolah SD dimana pada tahun itu sistem pendidikannya menerapkan sistem per caturwulan dimana dalam satu tahun kita mendapatkan libur 3 kali dalam setahun, yang berbeda dengan sistem sekarang yang menerapkan sistem semester yang liburnya lebih sedikit yaitu 2 kali dalam setahun. Pada saat itu ada salah satu teman kelas SD yang menghabiskan liburan dipulau JAWA (jika di kalimantan walaupun kita dijakarta atau di surabaya tetap saja anggapannya ke pulau JAWA) dimana saat itu dengan bangganya dia memperlihatkan foto – foto liburannya yang membuat iri para teman – teman sekelasnya yang ada disitu termaksud saya. Setelah itu pulang sekolah saya menceritakan kepada orang tua saya tentang keseruan teman saya yang berlibur sekeluarga di pulau JAWA dengan harapan orang tua mungkin akan berpikir atau merencanakan untuk memenuhi keinginan saya bisa meninjakkan kaki di pulau JAWA. Dan jawaban dari orang tua yang masih saya ingat hingga saat ini “ ga usah nak, nanti juga kamu akan lama berada disana” ucap ayah saya.

       Ketika kecil saya merasa bahwa ayah saya termaksud orang tua yang tidak loyal dengan anaknya, ketika ayah yang lain sering membelikan hadiah atau apresiasi ketika kita berprestasi di sekolah, ayah tidak pernah memberikan hadiah. Ketika ayah yang lain merayakan ulang tahun anaknya, itu tidak berlaku dengan ayah, dimana masa kecil saya tidak pernah merasakan perayaan ulang tahun. Akan tetapi, walaupun ayah mungkin jika dilihat sama teman sekantornya atau adik - adiknya bukan sosok ayah yang baik. Tapi menurut saya dia adalah sosok ayah yang paling baik didunia. Dimana beliau lebih memilih resign dari pekerjaannya yang bergajih besar diluar pulau hanya untuk memilih mendidik perkembangan anaknya ketika masih kecil hingga dewasa dan lebih memilih berwirausaha kecil – kecilan dirumah. Walaupun beliau pelit ketika anaknya minta dibelikan sesuatu seperti sepeda, mainan dll  tapi untuk hal pendidikan itu berbanding 360 derajat, dimana beliau sangat loyal dalam hal pendidikan, bahkan dalam candaan beliau ketika saya dan kakak saya bertengkar beliau sering mengatakan. “nak, kalo misalnya ayah dipanggil allah sekarang kira – kira kalian bisa hidup akur tidak ya”.  Saya menjawab “ engga tahu yah”. “makanya belajar yang rajin dan sholat lah, biar tau jawabanya” ujar beliau.

        Hal yang membuat saya salut akan ayah tentang pentingnya pendidikan ketika ayah menganjurkan saya untuk masuk ke pesantren. Pertama saya menolak dimana saya pasti akan meninggalkan rumah dalam jangka waktu yang lama, serta bayangan mengerikan di pesantren yang sering di katakan oleh teman – teman yang pernah memondok di pesantren malah salah satu teman saya ada yang bilang bahwa di pesantren itu lebih menakutkan dari pada ketakutan kita pada waktu kecil ketika akan di sunat. Akan tetapi hal itu musnah ketika saya ditunjukkan kemegahan pondok pesantren MAHAD AL – ZAYTUN, dimana kita bisa berteman dengan santri yang berasal dari seluruh indonesia, makanan yang sangat begizi baik, tidak seperti pesantren yang lain, dipesantren ini makanannya memenuhi pesyratan 4 sehat 5 sempurna, kamar dan kelas yang bagus, udara yang bersih, fasilitas olahraga yang lengkap dan satu yang paling menarik bagi saya yaitu saya bisa menginjakkan kaki di pulau JAWA yang akhirnya membuat saya ingin menjadi santri di pondok pesantren tersebut

       Ternyata masuk atau menjadi santri di MAHAD AL – ZAYTUN tidak semudah yang saya perkirakan, dimana setiap calon santri harus hafal JUZ ‘AMMA(yaitu juz 30 pada al-qur’an) serta lulus test tuils dan wawancara, untuk itu MAHAD AL – ZAYTUN mempunyai beberapa koordinator tiap daerah yang membimbing para calon santri untuk bisa menghafal juz ‘amma serta yang mengkoordinir calon santri bahwa santri yang sedang mengeyam pendidikan di MAHAD AL – ZAYTUN, dimana para koordinator ini tersebut di 27 provinsi di seluruh indonesia (pada saat itu indonesia masih terdiri 27 provinsi, tp kalo sekarang berapa yach .... :D), selain itu juga kita dikenakan tarif biaya pendidikan yang lumayan aneh menurut saya, biaya yang dikenakan adalah $ 9000 atau sekitar 9 juta rupiah jika dikalikan kurs rupiah $1 = Rp 10.000  yang pada tahun itu nominal uang segitu udah bisa naik haji, akan tetapi uang sebanyak itu untuk biaya pendidikan yang terdiri dari seragam, makan 3 kali sehari, fasilitas asrama, air , listrik lemari, tempat tidur, buku pelajaran untuk jangka waktu 6 Tahun. Wow biaya yang sangat murah kan, walaupun mahal didepan tetapi sangat murah untuk jangka waktu selama itu.


        Untuk memenuhi persyaratan hafal JUZ ‘AMMA saya akhirnya didaftarkan ayah saya dirumah salah satu koordinator MAHAD AL – ZAYTUN yang ada di banjarmasin, dimana saya disana dilatih untuk bisa menghafal JUZ ‘AMMA, disana saya bertemu dengan teman – teman baru yang terdiri dari 16 laki – laki dan 12 perempuan. Dalam proses penghafalannya dimulai dari halaman belakang bukan dari depan buku JUZ AMMA, yaitu mulai dari surat yang panjang yaitu surat AN-NABA, AN-NAZIAT, AB-BASA s/d  surat AN-NAS. Proses pembelajaran penghafalannya itu dilkakukan dalam 3 kali dalam seminggu, sehingga saya harus mengorbankan waktu bermain saya selama 3 kali dalam seminggu untuk datang ke tempat tersebut yang selalu diantarkan ayah, karna jarak dari rumah yang lumayan jauh sekitar 15 menit jika menggunakan sepeda motor. Jika teman – teman sekelas saya tiap waktu siang dan sorenya mengikuti kursus atau les untuk menghadapi test UNAS agar bisa mendapatkan nilai yang baik, berbeda dengan saya yang tidak mengikuti kursus tersebut dan lebih memilih kursus menghafal JUZ ‘AMMA agar bisa diterima sebagai santri di pondok pesant ren MAHAD AL – ZAYTUN. Kurang lebih 6 bulan lamanya saya di didik disana dalam proses penghafalan JUZ AMMA dan akhirnya saya mampu menghafal satu JUZ tersebut, walaupun jika sekarang saya udah banyak yang lupa.. :D


          Tidak terasa jam menunjukkan jam 6 pagi di hari selasa ini, saatnya saya bersiap untuk kuliah pagi hari ini, yach itulah sepenggal cerita pengalaman saya waktu kecil yang mungkin bisa mengobati rasa rindu untuk bisa berkunjung kesana lagi suatu saat nanti, mudah – mudahan allah memberikan umur panjang dan teman – temanku serta para ustadz dan ustadzah waktu di pondok kesehatan dan umur panjang agar nanti bisa bertemu lagi pada saat reuni akbar pada 1 JULI 2016

1 komentar: