Home

Kamis, 09 Januari 2014

frame relay



Frame relay merupakan salah satu alternatif dari sekian banyak protokol atau teknologi yang di implementasikan dalam WAN. Frame relay jauh lebih “maju” dibandingkan point-to-point WAN link yang sudah ada. Network Frame Relay dapat dikategorikan sebagai network multi-access yang artinya ada lebih dari 2 buah perangkat yang bisa terhubung pada network. Hampir mirip dengan LAN, bedanya pada Frame Relay tidak dapat dikirim frame broadcast (yang bekerja pada layer data link). Sehingga Frame Relay disebut juga sebagai NBMA atau nonbroadcast multi-access network.

Frame Relay Cloud terdiri dari atas beberapa buah switch Frame Relay. Kita tidak akan membahas bagaimana melakukan konfigurasi switch Frame Relay. Materi tentang switching dibahas pada buku Cisco CCNP-SWITCH


Yang perlu kita pahami adalah pada saat Frame Relay bekerja maka akan terbentuk semacam jalur virtual (Virtual Circuit atau VC). Komunikasi dilakukan antar-DTE (dalam hal ini Router 1 dan Router 2) melalui VC. Kemudian setiap DTE harus memiliki alamat Frame Relay atau ID yang disebut DLCI (Data Link Connection Identifier). DLCI berupa nomor yang tidak boleh sama untuk DTE yang berada pada satu jalur VC. Namun DLCI boleh sama jika jalur VC-nya berbeda.

Manakal Router 1 harus mem-forward paket (dari layer Network), maka dia akan mengenkapsulasi paket ke bentuk frame dengan cara menambahkan header dan trailer milik Frame Relay (yang bekerja pada layer Data link). Kemudian frame dikirim melalui VC. Di dalam header sudah ada DLCI sehingga switch Frame Relay dapat mengetahui tujuan frame tersebut.

Virtual Circuit ini seolah-olah merupakan jalur kabel point-to-point  antara duah buah DTE. Dalam praktiknya kita akan menjumpai jalur fisik yang menghubungkan dua buah DTE. Bisakan anda membayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan jika kita harus menarik sebuah kabel dari Bandung ke Jakarta hanya untuk menghubungkan dua buah DTE ? ini merupakan salah satu alasan mengapa Frame Relay menggunakan VC.

Kita seringkali dibingungkan dengan LMI (Local Management Interface) dan Encapsulation. LMI digunakan oleh DTE dan DCE. Ada 3 buah protokol yang didukung oleh Cisco IOS, yaitu Cisco, ITU, dan ANSI. Beberapa hal yang dilakukan oleh LMI:
o   Membentuk fungsi keepalive antara DTE dan DCE. Jika terjadi masalah dimana keepalive message tidak bisa diterima dalam jangka waktu tertentu, maka link yang bersangkutan akan dianggap putus atau down.
o   Memberikan sinyal apaka PVC dalam keadaan aktif atau tidak. PVC (Permanent VC) ditentukan oleh provider, tidak berubah-ubah kecuali settingnya diubah ulang secara dinamis. Umumnya sebagian besar network Frame Relay menggunakan PVC.

Sedangkan Encapsulation (enkapsulasi) digunakan untuk komunikasi antar-DTE. Proses enkapsulasi dilakukan dengan penambahan header dan trailer pada paket. Switch tidak “rewel” dengan perbedaan enkapsulasi. Namun, cukup “rewel” dengan LMI. Jika satu DTE menggunakan LMI tipe ANSI sedangkan switch atau DTE yang lain hanya mengenal LMI tipe ITU maka kekacauan pasti akan terjadi. Perbedaan enkapsulasi hanya akan berpengaruh pada DTE. Agar dua buah DTE dapat berkomunikasi maka kedua-duanya harus mendukung tipe enkapsulasi yang sama. Ada dua buah tipe enkapsulasi yang biasa digunakan, yaitu Cisco dan IETF.

DLCI merupakan Frame Relay Address. Sebuah DTE dapat mem-forward frame ke DTE tujuan dengan benar dengan cara melihat DLCI yang ada di dalam header masing-masing frame. DLCI sedikit berbeda dengan kebanyakan Data Link Address yang kita kenal. Header suatu frame hanya memiliki sebuah field DLCI, yaitu alamat tujuan (DLCI Destination). Tidak berisi alamat asal (source) dan tujuan (destination) sebagaimana jenis address yang lain.

DLCI harus unik (berbeda-beda) pada sebuah link lokal. Tapi boleh sama jika berbeda link (access link). Bayangkan DLCI seperti alamat rumah. Di kota bandung hanya boleh ada sebuah rumah dengan alamat Jalan Jendral Sudirman No.3. Namun alamat tersebut boleh sama asalkan berbeda kota.

Pada Frame Relay suatu router yang berbeda bisa menggunakan DLCI yang sama jika Iink keduanya berbeda. Penomoran dengan cara seperti ini seringkali membuat orang bingung dan “ketakutan”. Takut akan terjadi konflik DLCI antarsesama DTE. Untuk mengatasi hal tersebut, dikembangkan sebuah konsep baru yang disebut Global DLCI. Dengan Global DLCI, setiao DTE dijamin tidak akan menggunakan DLCI yang sama. Sehingga dapat menghindari “ketakutan”tadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar